Spektrofotometri UV-Vis
Quartz cuvette with the sample liquid for measurement

Spektrofotometri UV-Vis

Topic Progress:

Praktikkum selanjutnya yang akan di bahas adalah spektrofotometri. Praktikkum yang satu ini tidak pernah keluar di OSN, karena keterbatasan alat dan biaya pelaksanaan, namun materi ini sering keluar di pelatihan nasional dan juga IChO.

Prinsip spektrofotometri adalah dengan melewatkan cahaya ke suatu larutan dan mengukur transmitansi dari cahaya yang diteruskan. Dari data transmitansi tersebut, kita dapat menemukan nilai absorbansi atau banyaknya cahaya yang diserap oleh larutan tersebut. Nilai absorbansi dari larutan tersebut bergantung pada 3 variabel yang terhubung dalam persamaan/hukum Beer-Lambert:

$A = \epsilon * b * c$

Di mana $A$ adalah absorbansi, $\epsilon$ adalah koefisien ekstingsi molar atau absorptivitas molar (satuan: L cm-1 mol-1), $b$ adalah tebal kuvet (sering diasumsikan 1 cm), dan $c$ adalah konsentrasi molar dari larutan sampel (mol L-1).

Terkadang, di soal kita diberikan data transmitansi, yaitu rasio cahaya yang diteruskan oleh sampel larutan dengan cahaya yang dilewatkan:

$T = \frac{I}{I_o}$

Transmitansi memiliki hubungan dengan absorbansi melalui persamaan:

$A = log \frac{1}{T}$

Prosedur Eksperimen

Simak prosedur penggunaan spektrofotometer melalui channel YouTube Dr. Fung Fun Man, PhD, salah satu dosen saya di Department of Chemistry, National University of Singapore! (Diembed atas seizin beliau)

Metode Kurva Standar (atau Kurva Kalibrasi)

Pada metode kurva standar, larutan standar yang konsentrasinya berbeda-beda dan blanko diukur absorbansinya kemudian dibuat plot absorbansi (sumbu y) vs konsentrasi (sumbu x). Kemudian, sampel yang akan diuji diukur absorbansinya.

Contoh soal penggunaan metode kurva standar, adalah soal German Problems 2014 yang juga diadopsi menjadi soal tes komprehensif pelatnas III IChO 2018:

Gambar 1. German Problems 2014

Metode Adisi Standar

Tidak semua larutan analit bersih dari zat-zat pengganggu yang mempengaruhi pengukuran analitik. “Pengganggu” ini dalam kimia analitik disebut juga sebagai matriks. Keberadaan matriks membuat pengukuran dengan metode kurva standar tidak valid, sehingga harus diganti metode lain.

Pada metode adisi standar, ke dalam sampel larutan analit dimasukkan standar pada berbagai konsentrasi kemudian larutan hasil penambahan standar diukur absorbansinya dan diplot.