This is my Olympiad story… Part I

Banyak nih yang penasaran dengan cerita olimpiade saya dan bagaimana saya sekarang bisa punya pencapaian sejauh ini. Di website saya yang lama, sebenarnya saya sudah pernah mengupload cerita-cerita OSN dan OSI (Internasional) saya. Namun seperti yang kalian tahu, website saya yang lama sudah tiada dan diganti dengan website baru ini, jadi saya akan menceritakan kembali dan dengan sedikit lebih detil, mulai dari pengalaman ikut (dan tidak lolos) OSN sejak SD – SMP, kegagalan yang saya pernah lalui, dan orang-orang yang sangat berjasa dalam mendorong saya sejauh ini.

My first competition

OSN adalah sebuah ajang perlombaan sains tingkat nasional yang (menurut saya) paling prestisius, di mana seluruh siswa terbaik di Indonesia bertemu di satu tempat untuk mempertunjukkan bakatnya di bidang sains. Bukan rahasia lagi kalau rata-rata peserta OSN di-cap sebagai anak yang jenius dan dibangga-banggakan oleh sekolah, orang tua, bahkan oleh kota/provinsi tempat peserta tersebut berasal. Tidak jarang siswa yang berhasil mendulang medali di OSN atau di OSI bahkan bisa masuk berita di koran maupun TV. Dulu waktu SD, salah satu yang jadi inspirasi saya adalah seorang juara olimpiade matematika SD internasional dari kota saya yang diliput di berbagai media. Tebak siapa…?

Perjalanan saya dimulai di kelas 4 SD. Saat ini guru matematika saya di SD K 3 YSKI, Ibu Sri Suwasti “menemukan” bakat terpendam saya di bidang matematika, karena nilai matematika saya bagus-bagus. Sejak itu, di kelas 4 saya mengikuti lomba matematika pertama saya di tingkat kota, dan dapat juara pertama (waktu itu di SD Marsudirini Semarang, ditemani papa saya dan guru saya Ibu Lilian Sri Suwarni). Lomba ini jelas jadi lomba saya di SD yang paling memorable.

Menang pertama kali ya pasti senang dong, dan jadi ketagihan ikut lagi. Sejak saat itu saya jadi aktif ikut lomba-lomba namun masih di tingkat kota Semarang saja. Kadang menang, kadang enggak. Baru di kelas 5 SD untuk pertama kalinya saya menjajal ikut OSK. Detilnya saya tidak terlalu ingat, namun waktu itu saya hanya lolos ke tingkat provinsi dan tidak lolos ke tingkat nasional. Soal-soal yang diujikan jelas levelnya jauh di atas level saya saat itu.

SMP: stuck

Di SMP prestasi saya nggak banyak. Saya lebih banyak main-main, bahkan nilai matematika saya waktu itu biasa saja. Meskipun begitu, saya masih lolos ke tingkat provinsi. Waktu itu OSP diadakan di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, dan ada pelatda di IKIP Semarang (dekat Perpustakaan Daerah).

Lolos OSN tentu berharap banget, tapi ya apa daya kemampuan saya nggak seberapa dibanding teman-teman lain. Saya sudah merasa kesempatan saya lolos sangat kecil, karena sebelumnya sudah bertemu mereka di pelatda (waktu itu sekitar 40+ peserta), dan memang kemampuan mereka sangat jauh di atas saya. Saya ikut pelatihan bersama beberapa “legenda” matematika sekarang ini, yang sudah mendulang medali-medali di IMO, sedangkan saya mengambil jalan hidup lain…

Pindah Bidang!

Sejak saat itu saya yakin sekali apabila nanti di SMA saya lanjutkan ikut matematika, saya nggak akan punya harapan menyaingi mereka-mereka ini. Mereka sudah terbiasa dengan pelatihan dari dosen dan bisa “nyambung” ngobrol bareng dosen. Maka saya harus mau nggak mau pindah bidang, dan yang pertama kali terpikir di kepala saya adalah astronomi karena dulunya saya suka belajar benda-benda langit dan eksplorasi extraterrestrial. Tapi Tuhan berkata lain, karena di SMA nggak ada pengajar yang bisa mengajar astronomi.

Saat saya kelas X dulu, saya bertemu seorang yang influensial di hidup saya yaitu guru kimia saya, Ibu Priscilla Retnowati. Bagi yang merasa familiar dengan namanya, itu karena beliau menulis buku yang diterbitkan Erlangga:

Gambar 1. SeribuPena Kimia terbitan Erlangga, tulisan guru kimia SMA saya Ibu Priscilla.

Pertama kali saya “bersentuhan” dengan kimia yaitu di kelas X, di mana saya dapat nilai ulangan yang bagus-bagus dan kemudian dipilih Bu Pris (panggilan guru kimia saya) untuk ikut ekstrakulikuler klub kimia, untuk persiapan untuk lomba-lomba kimia ke depannya. Tentunya saya mau, namun saat itu masih nggak kepikiran kalau saya akan bisa berkompetisi/bersaing di OSN. Dulu saya termasuk yang rajin ikut klub, meskipun di rumah saya belum mulai kebiasaan untuk belajar rutin dan masih dengan hobby saya yaitu main game.

Berlanjut ke part II…

Leave a Reply